Mantan Ketua Reformasi Politik Nasional: Jika Prabowo Percaya Akhirat, Jokowi Harus Dihukum
PARAMETERMEDIA.COM – Mantan Ketua Reformasi Politik Nasional, Profesor Ryaas Rasyid di Forum Keadilan TV menyatakan pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan paling buruk sepanjang sejarah Indonesia.
Ia mencatat kepemimpinan yang rusak, manajemen yang hancur-hancuran, korupsi meraja lela, dimana tidak ada pertanggungjawaban.
Menurutnya 10 tahun berkuasa telah menanam pengaruh dan menanam orang-orang di berbagai institusi untuk melindungi Jokowi dari masalah, misalnya terkait ijazah palsu masalah yang tidak selesai hingga kini.
” ini orang malah harus dihukum, harus dibawa ke pengadilan. Bukan sekedar dibuktikan ijazahnya palsu, semua rentetan-rentetan yang terjadi selama pemerintahan 10 tahun itu kan. Bagaimana korupsi, bagaimana menteri-menterinya harus diadili. Itu kan tanggung jawab presiden,” katanya.
“Jangan dibiarkan melenggang begitu saja, ketegasan presiden seharusnya bisa menyelesaikan masalah bukan membuat kecewa banyak orang dengan ketidakmampuan Prabowo untuk menyelesaikan kasus ini.”
“Jokowi harus dihukum atau harus di dituntaskan kejahatannya, negeri ini tersandra oleh Ikatan pribadi Prabowo dengan Jokowi. Jokowi tidak ada hubungannya dengan ketatanegaraan dan tidak ada hubungannya dengan demokrasi.”
Ia menekankan Prabowo harus berhenti dulu berpidato, mencerna semua situasi dan mengambil poin-poin yang paling strategis untuk dia jawab dengan tindakan, bukan hanya dengan sebatas retorika.
Selain itu Ryaas menyebut kebijakan Prabowo seperti MBG, Koperasi Merah Putih yang tidak jelas dan harus direnungkan, berpikir kemana arah negara ini dan bagaimana mempertanggung jawabkannya di dunia dan akhirat.
” Kalau dia percaya ada akhirat, dengan usia yang sudah seperti itu, tidak ada satupun yang tidak akan dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
“Saya curiga tidak akan ada perbaikan sampai 5 tahun. Mungkin malah semakin parah dengan kebijakan-kebijakan yang dipaksakan dan menimbulkan masalah.”
Menurut Profesor ini bahwa setidaknya ada 3 kelompok yang sedang menghadapi Prabowo, yang pertama adalah kelompok cendekiawan, orang-orang terdidik, orang-orang yang peduli dan kecewa mengenai pemerintahan, mempertanyakan arah negara.
Kelompok kedua adalah orang-orang yang mengantisipasi. dimana jika terjadi sesuatu dengan Prabowo atau terjadi pergantian pemerintahan. Yaitu kelompok Gibran dengan orang-orang partai yang dikendalikan oleh Jokowi dulu.
Yang ketiga adalah kelompok-kelompok yang masih menyimpan memori 2024 hasil Pilpres, yang melihat bahwa pemerintahan terpilih karena adanya kecurangan.
Kelompok ini berpendapat bahwa pemerintahan Prabowo tidak akan mendapat berkah untuk membawa Indonesia lebih baik, namun kelompok ini diam dan menunggu momentum untuk mengambil posisi.
Disinggung terkait Gibran, Ryaas mengatakan Gibran mungkin diam-diam berharap terjadi sesuatu dengan Prabowo, karena itu satu-satunya kesempatan terbaik dimana konstitusi mengatakan wakil presiden akan naik menggantikan kalau terjadi sesuatu terhadap presiden.**














