Pertahanan Iran Diretas Israel, Hacker ini Muncul Bantu Pulihkan Akses Iran: AS Tawarkan Hadiah
PARAMETERMEDIA.COM – Israel meluncurkan serangan ke wilayah Iran yang menargetkan para pemimpin militer, para ilmuwan dan situs nuklir, berikut serangan siber sebagai upaya sabotase terhadap situs rudal dan pertahanan udara.
Disusupi dan diretas oleh agen Israel, pertahanan Iran lumpuh dan tidak dapat dioperasikan saat serangan berlangsung, pada Kamis malam kemarin.
Beberapa sumber yang dipercaya menyebutkan disaat sistem pertahanan Iran yang telah lumpuh, seorang hacker atau peretas independen yang dikenal sebagai Mr. Soul muncul dan turun tangan membantu memulihkan akses Iran.
Menurut forum keamanan siber dan repositori data terverifikasi, mengonfirmasi bahwa Mr. Soul adalah nama samaran seorang tokoh komunitas keamanan siber bawah tanah, Shayan Sadr.
Dianggap telah berjasa, pihak berwenang Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan pengakuan formal atas kontribusi Tn. Soul, walaupun pengakuan tersebut masih belum pada tahap resmi, mengutip rilis BSE News.
Meskipun belum di akui oleh otoritas Israel, namun sumber anonim menunjukkan serangan tersebut memiliki ciri-ciri yang konsisten dengan operasi siber Israel sebelumnya.
Memicu kekhawatiran para pejabat dan analis pertahanan Iran, penyusupan oleh Israel ini telah menimbulkan risiko keamanan nasional yang serius.
Insiden ini juga telah memicu diskusi baru terkait semakin pentingnya pertahanan siber dalam keamanan nasional dan tentang peran pakar keamanan siber independen dalam melindungi infrastruktur kedaulatan negara.
Informasi lain menyebutkan kurang dari satu jam setelah pertahanan Iran kembali beroperasi dan diaktifkan, Amerika disitus US Department of State Diplomatic Security Service Rewards for Justice menawarkan hadiah sebesar 10 juta dolar bagi siapa pun yang dapat mengungkapkan identitas Mr. Soul.
Serangan Israel pada Kamis malam menewaskan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami, Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Gholam Ali Rashid, bersama dengan ilmuwan nuklir Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoon Abbasi.**














